Ultimate magazine theme for WordPress.

Empat Faktor Ini Picu KDRT dan Pelecehan Seksual

Sudirman Kadis P3A Sarolangun saat diwawancarai, (Foro: Wahid Wartawan Penajambi.co)

 

PENAJAMBI.CO, Sarolangun – Kekerasan di dalam sebuah keluarga hingga mengkibatkan pelecehan seksual pada anak yang masih dibawah umur terus terjadi.

Akhir-akhir ini terjadi dan marak di Kabupaten Sarolangun dan masalah itu terkuat atas adanya laporan kepolisian.

Pihak Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Sarolangun, mengaku sangat prihatin dengan kondisi tersebut.

Terjadinya kasus seperti kekerasan didalam rumah tangga selain dipengaruhi oleh kesempatan, beberapa faktor utama yang mempengaruhi seseorang yaitu Karakter, Pendidikan, Agama dan Sosial Ekonomi.

“Empat faktor inilah yang sangat mempengaruhi terjadinya kekerasan,” kata Sudirman, kepala DP3A Kabupaten Sarolangun, Kamis (20/2/2020) Saat dikonfirmasi media ini.

Dijelaskannya, Seperti faktor Karakter, yang mana karakter seseorang yang berbeda-beda, ada yang suka marah dan ada yang sabar. Faktor pendidikan, ini juga menjadi pengaruh besar, jika berpendidikan tinggi secara otomatis bisa mengontrol emosi dan sebaliknya jika tidak berpendidikan maka susah untuk mengontrolnya.

Sementara untuk faktor Agama, inilah faktor yang terpenting, karena dengan agama dan iman maka kecil kemungkinan terjadinya tindak kekerasan. Semakin kuat orang itu ibadah, maka semakin takut ia melakukan maksiat.

Sedangkan faktor sosial ekonomi juga berperan penting, karena timbulnya suatu masalah kebanyakan masalah ekonomi yang tidak tercukupi.

Ditambahkan Sudirman, untuk kasus pelecehan seksual, seperti pencabulan dan lain sebagainya, faktor utamanya yaitu Genetik.

“Faktor Genetik inilah yang menyebabkan sering terjadinya kasus pelecehan seksual. Contohnya, Libido atau keinginan seksual atau gairah seksual seseorang yang berbeda-beda, ada yang rendah dan ada yang tinggi dan satu lagi perilaku seksual yang menyimpang atau kelainan seksual yang mana disebabkan kebanyakan oleh trauma masa kecil, seperti pelecehan seksual yang dialami oleh orang tersebut,” jelasnya.

Dengan maraknya kasus seperti ini, terutama banyak yang menimpa para Pelajar sekolah, Dinas DP3A Sarolangun menghimbau untuk masyarakat selaku orang tua untuk selalu mengontrol dan mengawasi anaknya, mulai dari HP karena Medsos berpengaruh besar.

“Jangan sibok internet dan yang dilihat aneh- aneh, dan media sosial juga kuat. Intinya pengawasan pihak keluarga yang paling diutamakan,” katanya.

Akunya, jika dilihat dari laporan awal Januari hingga Februari 2020 pihaknya sudah tangani sebanyak 20 kasus. Yang mana kasus tersebut umumnya kasus pelecehan seksual dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). (Wahid)