Ultimate magazine theme for WordPress.

Menilik Efek Sosial Ekonomi Dari Program Padat Karya CE

Bupati Cek Endra dan jajaran saat meninjau program padat karya di Kecamatan Pelawan, (Arsip Penajambi.co).

PENAJAMBI.CO, Sarolangun – Program padat karya tunai yang digagas pemerintah Kabupaten Sarolangun bulan April lalu saat ini terus berlanjut ke tahap dua.

Program itu bertujuan untuk membantu perekenomian masyarakat diwilayah tersebut yang terdampak Covid-19.

Ditengah kondisi rendahnya harga komoditi karet nasional, sehingga manfaat program itu sangat terasa bagi masyarakat tingkat bawah, terutama para petani.

“Yang baru kita lakukan pada tahap pertama 1,7 miliar, alhamdulillah dari hitungan kami berhasil menyerap tenaga kerja 1300 orang. Itu untuk tahap pertama,” kata Bupati Cek Endra di Sarolangun, beberapa hari yang lalu.

Kata dia, program itu melibatkan seluruh desa dalam kabupaten Sarolangun, dengan total anggaran 5 Miliar Rupiah dibagi dalam tiga tahap.

“Seluruh desa mengajukan, kalau selesai sampai tahap tiga target kita menyerap 5000 lebih tenaga kerja,” katanya.

Dia berkomitmen akan menjadikan program tersebut kedepan sebagai program rutin kabupaten, sebab dampaknya sangat terasa ditengah masyarakat.

“Dari pengamatan kami dilapangan bahwa program ini sangat berdampak sekali kepada ekonomi masyarakat, masyarakat merasa terbantu. Kedepan akan terus kita lanjutkan,” terangnya.

Untuk diketahui, selain meningkatkan ekonomi masyarakat, program itu juga salah satu cara pemerintah mengajak masyarakat peduli dengan infrastruktur yang sudah dibangun oleh pemerintah.

Selain itu, program tersebut juga berdampak pada edukasi sosial gotong royong yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang.

Betapa tidak, seperti tebas bayang, membersihkan saluran irigasi pertanian, membersihkan sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Itu semua dilakukan secara bergotong royong, meskipun pada akhirnya masyarakat bisa menikmati upah serta kebersihan dan sektor pertanian dan infrastruktur yang terawat dengan baik. (Husnil)